+6285373744393 | +6285373744393

Esensi Zakat Dalam Kehidupan Personal Dan Kolektif Di Tengah-tengah Arus Materialistik

Esensi Zakat dalam Kehidupan Personal dan Kolektif di Tengah-Tengah Arus Materialistik

Penulis :Muhammad Iqbal Fahimy

Manusia merupakan makhluk sosial yang dalam kehidupannya selalu berinteraksi, komunikasi, saling mengidentifikasi, dan saling terikat antarsesama. Sebagai makhluk sosial, tentunya manusia memposisikan diri sebagai makhluk yang saling butuh-membutuhkan, perlu-memerlukan: bersama-sama-sama. Tidak ada manusia di dunia ini yang dapat berdiri dengan sendirinya: menyelesaikan segala permasalahan dalam kehidupan tanpa bantuan orang lain ataupun mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Karenanya, sudah menjadi kewajaran manusia memandang antarsesama, sebagai makhluk yang saling melengkapi, kolaboratif, dan selalu hidup berdampingan sesuai titah manusia sebagai makhluk sosial.

 

Dewasa ini, peranan dan fungsi sosial dalam aktivitas manusia sebagai makhluk sosial, sepertinya mulai terkikis. Orientasi sosial bergerak pada arah materialistis atau materialisme. Hal ini dapat kita lihat pada aktivitas manusia yang menitikberatkan segala aktivitasnya pada sifat-sifat individualis yang mulai meninggalkan sifat-sifat sosialis (saling tolong-menolong). Misalnya saja, individu-individu yang mengedepankan materi (kekayaan, jabatan, dan finansial) sebagai indikator untuk menilai seseorang. Si kaya semakin disanjung-sanjung dan dihormati, sedangkan si miskin semakin dikucilkan dan di pojokan. Pahit memang, akan tetapi demikian realita yang terjadi. Di mana segi-segi sosial yang saling bantu-membantu dan tolong-menolong semakin pudar. Bagaimanapun, sifat-sifat materialistis dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial adalah kepincangan dan kecacatan yang nyata. Menilai seseorang berdasarkan materi yang dimiliki, bukan pada nilai manusia itu sendiri sebagai makhluk ciptaan Tuhan. 

 

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, tentunya mengecam keras tindakan dan sifat-sifat yang materialis. Bahkan, Allah swt., dalam surah at-Takasur ayat 1 dan 2 telah  memperingati orang-orang yang bersifat materialis, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, hingga kamu masuk ke dalam kubur”. Bermegah-megahan yang dimaksud dapat kita artikan sifat manusia yang terlalu over dalam menjalani dan menyikapi kehidupan dunia sehingga menghilangkan esensi utama manusia sebagai makhluk sosial.

Allah swt., Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Setiap hal yang dilarang, ada maksud tertentu agar manusia itu tidak celaka. Tentunya, Allah swt., memberikan solusi untuk membendung sifat-sifat materialistis dan kembali ke titah manusia sebagai makhluk sosial sejati. Solusi yang paling nyata untuk membendung sifat-sifat materialistis adalah dengan zakat: menunaikan zakat dan menyalurkan zakat kepada orang yang lebih membutuhkan.

 

Zakat merupakan salah satu rukun daripada rukun-rukun islam yang lima (mengucapkan dua kalimah syahadat, sembahyang, puasa, zakat, dan naik haji bagi yang mampu). Dengan kata lain, zakat merupakan salah satu fondasi utama dalam islam. Dalam praktiknya, zakat merupakan ketentuan Allah swt., dan nabinya yang telah digaris bawahi oleh agama untuk menginfakkan atau menyisihkan sedikit harta kemudian diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan/memerlukan. Secara lahiriah, harta memang milik manusia itu sendiri. Namun, secara hakikat, harta tersebut merupakan milik Allah swt., yang dititipkan kepada manusia untuk difungsikan sebagai bahan atau alat dalam melengkapi kehidupan.

Zakat sebagai Benteng Materialisme

Hadirnya zakat dalam islam, salah satu perannya adalah untuk membentengi hal sifat-sifat materialistis. Zakat merupakan salah satu metode untuk mensucikan harta dan jiwa. Islam memandang bahwa dalam harta seseorang terdapat hak orang lain. Bahkan, pada diri seseorang pun, ada hak orang lain. Zakat hadir untuk meminimalisir kesenjangan sosial melalui metode pembagian harta kepada orang yang membutuhkan melalui orang-orang yang memiliki kelebihan.

Zakat hadir sebagai variabel kontrol dalam kehidupan manusia agar tidak materialistik. Bagaimanapun, sifat-sifat materialistis dalam pandangan islam adalah hal yang dilarang. Islam tidak memandang seseorang melalui harta ataupun pangkat dan jabatan, melainkan ketakwaan kepada Allah swt. Sebagaimana firman Allah swt., dalam surah al-Hujurat: 13, “…Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”.

0 Comments

Leave a comment