+6285373744393 | +6285373744393

Berita

BERITA RUMAH AMAL

Berita terkini mengenai kegiatan berkaitan dengan rumah amal
2 months ago
Admin

Esensi Zakat dalam Kehidupan Personal dan Kolektif di Tengah-Tengah Arus Materialistik

Penulis :Muhammad Iqbal Fahimy Manusia merupakan makhluk sosial yang dalam kehidupannya selalu berinteraksi, komunikasi, saling mengidentifikasi, dan saling terikat antarsesama. Sebagai makhluk sosial, tentunya manusia memposisikan diri sebagai makhluk yang saling butuh-membutuhkan, perlu-memerlukan: bersama-sama-sama. Tidak ada manusia di dunia ini yang dapat berdiri dengan sendirinya: menyelesaikan segala permasalahan dalam kehidupan tanpa bantuan orang lain ataupun mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Karenanya, sudah menjadi kewajaran manusia memandang antarsesama, sebagai makhluk yang saling melengkapi, kolaboratif, dan selalu hidup berdampingan sesuai titah manusia sebagai makhluk sosial.   Dewasa ini, peranan dan fungsi sosial dalam aktivitas manusia sebagai makhluk sosial, sepertinya mulai terkikis. Orientasi sosial bergerak pada arah materialistis atau materialisme. Hal ini dapat kita lihat pada aktivitas manusia yang menitikberatkan segala aktivitasnya pada sifat-sifat individualis yang mulai meninggalkan sifat-sifat sosialis (saling tolong-menolong). Misalnya saja, individu-individu yang mengedepankan materi (kekayaan, jabatan, dan finansial) sebagai indikator untuk menilai seseorang. Si kaya semakin disanjung-sanjung dan dihormati, sedangkan si miskin semakin dikucilkan dan di pojokan. Pahit memang, akan tetapi demikian realita yang terjadi. Di mana segi-segi sosial yang saling bantu-membantu dan tolong-menolong semakin pudar. Bagaimanapun, sifat-sifat materialistis dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial adalah kepincangan dan kecacatan yang nyata. Menilai seseorang berdasarkan materi yang dimiliki, bukan pada nilai manusia itu sendiri sebagai makhluk ciptaan Tuhan.    Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, tentunya mengecam keras tindakan dan sifat-sifat yang materialis. Bahkan, Allah swt., dalam surah at-Takasur ayat 1 dan 2 telah  memperingati orang-orang yang bersifat materialis, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, hingga kamu masuk ke dalam kubur”. Bermegah-megahan yang dimaksud dapat kita artikan sifat manusia yang terlalu over dalam menjalani dan menyikapi kehidupan dunia sehingga menghilangkan esensi utama manusia sebagai makhluk sosial. Allah swt., Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Setiap hal yang dilarang, ada maksud tertentu agar manusia itu tidak celaka. Tentunya, Allah swt., memberikan solusi untuk membendung sifat-sifat materialistis dan kembali ke titah manusia sebagai makhluk sosial sejati. Solusi yang paling nyata untuk membendung sifat-sifat materialistis adalah dengan zakat: menunaikan zakat dan menyalurkan zakat kepada orang yang lebih membutuhkan.   Zakat merupakan salah satu rukun daripada rukun-rukun islam yang lima (mengucapkan dua kalimah syahadat, sembahyang, puasa, zakat, dan naik haji bagi yang mampu). Dengan kata lain, zakat merupakan salah satu fondasi utama dalam islam. Dalam praktiknya, zakat merupakan ketentuan Allah swt., dan nabinya yang telah digaris bawahi oleh agama untuk menginfakkan atau menyisihkan sedikit harta kemudian diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan/memerlukan. Secara lahiriah, harta memang milik manusia itu sendiri. Namun, secara hakikat, harta tersebut merupakan milik Allah swt., yang dititipkan kepada manusia untuk difungsikan sebagai bahan atau alat dalam melengkapi kehidupan. Zakat sebagai Benteng Materialisme Hadirnya zakat dalam islam, salah satu perannya adalah untuk membentengi hal sifat-sifat materialistis. Zakat merupakan salah satu metode untuk mensucikan harta dan jiwa. Islam memandang bahwa dalam harta seseorang terdapat hak orang lain. Bahkan, pada diri seseorang pun, ada hak orang lain. Zakat hadir untuk meminimalisir kesenjangan sosial melalui metode pembagian harta kepada orang yang membutuhkan melalui orang-orang yang memiliki kelebihan. Zakat hadir sebagai variabel kontrol dalam kehidupan manusia agar tidak materialistik. Bagaimanapun, sifat-sifat materialistis dalam pandangan islam adalah hal yang dilarang. Islam tidak memandang seseorang melalui harta ataupun pangkat dan jabatan, melainkan ketakwaan kepada Allah swt. Sebagaimana firman Allah swt., dalam surah al-Hujurat: 13, “…Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”.

Read more

2 months ago
Admin

Yang Penting Ikhlas atau Yang Penting Pantas

Penulis : Muhammad Hanif Assalamualaikum sahabat seiman semua Pada kali ini saya mengajak sahabat seiman semua untuk merenung kembali apa yang pernah kita lakukan. Pasti kita pernah menolong orang lain dalam bentuk uang, tenaga dan benda. Sebagai seorang muslim kita mengenal sikap ini dengan istilah sedekah. Sedekah ialah ajaran agama islam yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW yang kita teladani dalam segala aspek kehidupan. Meski sedekah tidak diharuskan dalam bentuk mengeluarkan harta, tapi ada baiknya jika kita yang memiliki pendapatan lebih untuk bisa mengeluarkan pula sebagian harta tersebut kepada orang lain yang berhak supaya kita senantiasa diberkahi oleh Allah SWT. Sebagaimana yang tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 245: “ Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak, Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al Baqarah: 245) Ada sebuah kisah menarik tentang perbuatan sedekah. Suatu ketika seorang pengemis menghampiri seorang pengusaha untuk meminta sedekah, pengusaha tersebut membuka dompet dan memberinya uang sebesar Rp 20.000 kepada pengemis. Raut wajah pengemis menjadi penuh semangat dan dia tersenyum berucap “Alhamdulillah, terima kasih ibu.” Ibu tersebut membalas senyum pengemis sembari menganggukan kepala. Kisah berikutnya, menjelang sore seorang tukang becak memakirkan motornya di halaman masjid dengan baju yang rapi. Ia memasukkan uang sebesar Rp 20.000 ke dalam kotak amal masjid ketika ia akan menuju shaf saat sebelum shalat Dzuhur dimulai. Uang tersebut ia kumpulkan selama 7 hari dan sengaja disisihkan karena sangat ingin bersedekah ke masjid walaupun keadaan ekonominya kurang baik. Upah tukang becak yang ia dapat hanya cukup untuk makan seadanya bersama anak dan istrinya. Kisah diatas sama-sama menceritakan tentang bersedekah dan sama-sama dengan nominal Rp 20.000. Ketika seorang pengusaha dan tukang becak sama sama bersedekah dengan ikhlas, lalu apakah sudah layak sedekah mereka? Seorang pengusaha yang lebih kurang mendapatkan gaji sebesar Rp 10.000.000 perbulan bersedekah Rp 20.000 dan tukang becak yang berpenghasilan kurang dari Rp 1.000.000 bersedekah dengan nominal yang sama. Banyak orang yang mengatakan bahwasanya “Sedekah itu yang penting ikhlas”, tapi alangkah lebih baiknya jika ditambah dengan “Sedekah itu harus pantas”. Artinya jika kita termasuk orang yang berpenghasilan menengah ke atas, kita juga harus bersedakah sepantasnya. Contoh kita berpenghasilan Rp 10.000.000, setidaknya sedekah yang kita keluarkan tidak kurang Rp 500.000. Ketika jumlah tersebut telah kita keluarkan, meskipun awalnya belum ikhlas teruskan saja maka lama lama akan ikhlas sendirinya. Sudah terlanjur dikeluarkan dan tidak mungkin uang tersebut akan kembali lagi. Ibarat seekor bebek menghasilkan telur bebek dan seekor burung puyuh menghasilkan telur puyuh. Apakah pantas bebek menghasilkan telur seukuran telur puyuh? Dan apakah mau seekor buruh puyuh menghasilkan telur sebesar telur bebek? Bisa jadi setelah sekali menghasilkan burung itu tidak akan mau menghasilkan lagi. Begitupula dengan sedekah, kita memiliki penghasilan yang lumayan maka bersedekahlah lebih besar dari mereka yang penghasilannya di bawah kita. Itulah yang dinamakan sedekah pantas. Memantaskan diri untuk mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita. Ketika kita belum ikhlas teruslah bersedekah itu. Jadikan sedekah sebagai rutinitas setiap kita memperoleh rezeki, seiring berjalannya waktu tidak hanya akan hadir rasa ikhlas juga akan memiliki perasaan tidak tenang saat sedekah belum kita laksanakan. Maka dari itu kita semua harus merubah pikiran sedekah, bukan yang penting ikhlas tapi juga harus pantas. Yang menjadi pemikiran keliru di kalangan masyarakat adalah seseorang berprinsip “sedekah yang penting ikhlas”, memiliki penghasilan besar namun tidak diimbangi dengan sedekah yang pantas maka hasilnya ia akan menjadi orang kikir.

Read more

9 months ago
Admin

Kapan sebaiknya kita bersedakah, apa harus menunggu kaya dulu?

Kapan sebaiknya kita bersedakah, apa harus menunggu kaya dulu?   Sedekah atau shadaqah berasal dari kata "shadaqa" yang artinya jujur, benar, memberi dengan ikhlas. Ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang bersedekah berarti telah berlaku jujur kepada dirinya sendiri mengenai kelebihan yang telah di berikan oleh Allah. Sebagai seorang muslim kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak sedekah Berikut ini beberapa waktu paling utama untuk bersedekah: Seorang pria mendatangi Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling afdhal?” Maka beliau menjawab: “Kamu bersedekah saat sehat, kikir, takut miskin dan kamu berangan-angan untuk menjadi hartawan yang kaya raya. Dan janganlah kamu lalai hingga nyawamu sampai di tenggorokan dan barulah kamu bagi-bagikan sedekahmu, ini untuk si Fulan dan ini untuk Fulan. Dan ingatlah (pada saat di ujung nyawa seperti itu), harta memang untuk si Fulan (yakni akan diwarisinya). “ (Shahih Muslim, no: 1713) 1. Bersedekah di saat sehat Jika kita dikaruniai kesehatan, maka bersedekahlah segera! Jangan tunggu sakit terlebih dahulu baru bersedekah, karena bisa jadi niat seseorang bersedekah di saat sakit adalah supaya penyakit tersebut dihilangkan darinya. 2. Bersedekah di saat merasa kikir dan takut miskin Bersedekahlah di saat diri kita sedang merasa takut miskin dan amat pelit dalam membelanjakan uang. Hal ini bisa memperlihatkan tingginya pengorbanan yang dilakukan, sedekah di waktu seperti ini seolah menjadi bukti keimanan. “Dan sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim) Tidak jarang seseorang yang bersedekah atau yang akan bersedekah mendapat bisikan dalam hatinya, baik dari dalam dirinya atau dari orang lain, yang menganjurkannya untuk tidak bersedekah atau tidak terlalu banyak memberi. Padahal, sedekah tidak akan menjadikan seseorang miskin, tapi justru sebaliknya. Sedekah bisa melipatgandakan harga dan pahala dari Allah Allah SWT. “Perumpamaan orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah seperti sebiji tanaman yang tumbuh darinya tujuh tangkai dan setiap tangkai menghasilkan seratus buah dan Allah melipatgandakan kepada siapa yang Ia inginkan. Allah Mahalapang dan Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 261). 3. Bersedekah di saat ingin menjadi kaya Bersedekah di saat masih berangan-angan menjadi seorang yang kaya raya adalah jauh lebih utama dibandingkan bersedekah di saat sudah menjadi kaya raya. Hal ini dikarenakan nilai uang itu bisa berbeda-beda tergantung kondisi kita saat itu. Saat kita hanya memiliki lima puluh ribu Rupiah, namun kita menyedekahkan dua puluh lima ribu Rupiah, tentu nilainya lebih besar dibandingkan memiliki uang sepuluh milyar Rupiah namun hanya disedekahkan sepuluh juta. Jadi untuk dapat bersedekah tidak perlu menunggu menjadi kaya. 4.  Bersedekah di hari Jumat Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya shadaqah pada hari Jum’at itu memiliki kelebihan dari hari-hari lainnya. Shadaqah pada hari itu dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, seperti shadaqah pada bulan Ramadhan jika dibandingkan dengan seluruh bulan lainnya.” Zaadul Ma’aad (I/407). Ibnu Khuzaimah pernah menyebutkan: “Naungan orang mukmin pada hari Kiamat kelak adalah shadaqahnya” Hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, dinilai shahih oleh al-Albani yang terdapat dalam kitab Shahiih at-Targhiib (no. 872). Dalam hadits tersebut sudah jelas bahwasanya, salah satu hal yang bisa menaungi seorang muslim ketika hari kiamat tiba adalah sedekahnya. Sehingga ketika kita senantiasa bersedekah, terlebih dengan tulus dan ikhlas, hanya semata-mata mengharap ridha Allah, maka Allah pun akan ridha terhadapnya 5. Sedekah di waktu pagi Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Tiada sehari pun sekalian hamba memasuki suatu pagi, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satu dari keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya’. Sementara yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan hartanya’.” (HR Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadits di atas, pagi hari termasuk waktu yang paling afdhal untuk bersedekah. Demikian beberapa waktu yang paling tepat untuk bersedekah, semoga kita bisa senantiasa istiqamah dalam bersedekah. Amin.

Read more

9 months ago
Admin

Rahasia Dibalik Sedekah Subuh

Rahasia Dibalik Sedekah Subuh   Sedekah berasal dari bahasa Arab yaitu shadaqah, yang diambil dari kata sidq yang artinya kebenaran. Orang yang melakukan sedekah berarti dia meniatkan pemberiannya untuk keridhoan Allah Swt semata tanpa mengharapkan imbalan apapun. Salah satu amalan yang dicintai Allah adalah sedekah. Seperti dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 271, yang artinya  “Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah: 271). Bersedekah diwaktu subuh sangat dianjurkan. Kenapa harus di waktu subuh? Sebenarnya semua waktu itu baik. Tetapi waktu subuh memiliki keistimewaannya tersendiri, karena di waktu inilah Allah menurunkan para malaikat untuk mendoakan orang-orang yang bersedekah tersebut. Yuk disimak keutamaan-keutamaan sedekah subuh! Didoakan Oleh Malaikat Dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim orang yang bersedekah akan diberikan ganti rugi yang lebih baik lagi oleh Allah Swt. Sebagaimana isi hadist tersebut, "Wahai, Tuhan! Berikanlah ganti rugi bagi dermawan yang menyedekahkan hartanya.’" Dan yang satu lagi berkata, "Wahai, Tuhan! Musnahkanlah harta si bakhil." (H.R. Bukhari dan Muslim). Balasan kebaikan berlipat ganda Harta yang dikeluarkan untuk bersedekah dengan ikhlas dan hati yang tulus tidak akan berkurang, melainkan dilipatgandakan oleh Allah Swt. Seperti yang telah Allah firmankan di dalam surat Al-Baqarah ayat 261, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” Mudahnya terkabul doa-doa Cara agar doa-doa cepat Allah kabulkan adalah dengan membantu sesama, salah satunya dengan bersedekah yang diharapkan mampu membantu orang-orang yang memang membutuhkan. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain.” Pintu rezeki terbuka lebar Berbagi kepada sesama merupakan kebaikan yang sangat Allah sukai. Allah bahkan menjanjikan akan melapangkan rezeki bagi hambanya yang gemar menafkahkan hartanya kepada orang lain, Allah berfirman dalam surat Saba ayat 39, “Katakanlah, "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” Penghapus dosa Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api”. Tidak hanya dengan cara meminta ampun atau bertaubat saja dapat menghapus dosa yang telah diperbuat, bersedakah juga dapat menjadi salah satunya. Maka dari itu bersedekah sangat dianjurkan. ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang rutin walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim). Setelah mengetahui rahasia-rahasia dibalik sedekah subuh, semoga kita menjadi salah satu dari sebagian orang yang mengamalkan amalan baik di waktu subuh.

Read more

1 year ago
Admin

Jangan Salah Arti Perihal Sikap Qana’ah

Agama Islam memerintahkan umatnya untuk qana’ah. Itulah sebabnya di zaman para sahabat banyak orang kaya,  memiliki kekayaan miliaran,  memiliki banyak unta, berdagang ke luar negeri, tetapi mereka qana’ah. Arti kata qana’ah sangat luas. Percaya bahwa memang ada kekuatan yang melebihi kekuatan manusia, bersabar dalam menerima rezeki jika rezeki tidak berkenan pada diri sendiri, dan mensyukuri nikmat yang diberikan kepada kita, karena bagaimanapun nikmat itu akan sirna. Dalam kasus seperti itu diperintahkan untuk terus bekerja mencari rizki, kewajibannya belum berakhir. Kami bekerja bukan karena kami meminta tambahan yang sudah kami miliki dan tidak merasa cukup dengan apa yang ada, tetapi kami bekerja, karena orang yang hidup harus terus bekerja. Demikianlah apa yang dimaksud dengan qana’ah. Jelas kesalahpahaman orang yang mengatakan qana’ah ini melemahkan hati, malas pikiran, mengajak bergandengan tangan. Namun qana’ah merupakan modal terkuat untuk menghadapi subsistensi, sehingga menimbulkan kesungguhan hidup yang benar-benar (energi) mencari rezeki. Jangan takut dan gentar, jangan ragu dan ragu, kuatkan pikiran, kuatkan hati, percaya kepada Tuhan, berharap pertolongan-Nya, dan jangan putus asa.   Barang siapa yang telah memperoleh rezeki, dan telah dapat dimakan pada waktu pagi dan sore hari, hendaklah ia menenangkan hatinya, jangan merasa ragu dan kesepian. Anda tidak dilarang bekerja untuk mencari nafkah, Anda tidak disuruh bermalas-malasan karena harta sudah ada, karena itu bukan qana’ah, yaitu kemalasan. Bekerjalah, karena manusia diutus ke dunia untuk bekerja, tetapi yakinlah, yakinlah bahwa dalam pekerjaan itu ada yang kalah dan yang menang. Jadi Anda bekerja karena Anda melihat bahwa kekayaan yang Anda miliki tidak cukup, tetapi Anda bekerja karena yang hidup tidak bisa menganggur. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah ﷺ bersabda , قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya.”(HR: Muslim). Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan seorang muslim yang memiliki sifat qana’ah. Karena dengan itu semua dia akan meraih kebaikan dan keutamaan di dunia dan akhirat, meskipun harta yang dimilikinya sedikit. Qana’ah bukanlah berarti  hilang semangat untuk berkerja lebih keras demi menambah rezeki. Malah, ia bertujuan senantiasa bersyukur dengan rezeki yang dikurniakan Allah. Kaya Hati Karena sikap qana’ah tidak berarti fatalis, menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang-orang qana’ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun semua itu bukan untuk menumpuk-numpuk kekayaan, mencintai dunia dan takut mati, lupa infak dan sedekah. Dari Abu Hurairah Rasulullah ﷺ bersabda عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ “Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR: Bukhari no. 6446)   Sikap qana’ah didefinisikan sebagai sikap merasa cukup, ridha atau puas atas karunia dan rezeki yang diberikan Allah SWT  qana’ah ialah kepuasan hati dengan rezeki yang ditentukan Allah. Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin menyampaikan hadits dalam Shahih Muslim dan yang lainnya, dari Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ وَرُزِقُ كَفَا فًا، وَ قَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ “Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rizki yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR: Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawy). Karenanya qana’ah itu mengandung lima perkara: Ikhlas menerima apa yang ada, selalu memohon kepada untuk mendapat tambahan rizki yang cukup, dan terus berusaha,  sabar dan menerima menerima ketentuan Allah, tawakal kepada Allah dan tidak tertarik pada tipu daya dunia.

Read more

1 year ago
Admin

Apakah Salah Punya Keinginan ?

Apakah punya keinginan salah? Justru banyak yang menjadi sukses dan berhasil diawali dari besarnya keinginan untuk menggapai sesuatu, Yang menjadi catatan penting itu adalah "Jangan sampai keinginan kita justru mengusik kebahagiaan". Namun Ketika keinginan membuat kita tidak menikmati segala sesuatu yang saat ini kita jalani dan ,embuat kita melewati setiap momen tanpa dinikmati, itu adalah "jebakan keinginan" yaitu saat kita : 1. Sibuk memikirkan yang belum ada, lupa mensyukuri yang sudah ada 2. Sibuk merisaukan hasil, lupa menikmati proses Maka pastikan dalam memiliki keinginan kita memiliki Keinginan yang Jernih, Apa itu Keinginan yang Jernih? Yaitu keinginan yang tetap bisa membuat kita mensyukuri dan berbahagia dengan masa kini, yang membuat kita bisa menikmati prosesnya tanpa terganggu dengan hasil akhir   Menata Keinginan dengan : Grateful Habits Biasakan diri agar selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah titipkan saat ini.. Kata Ibnu Athailah: من لم يعرف قدر النعم بوجدانها عرفها بوجود فقدانها “Orang yang tidak menyadari kadar karunia Allah saat sedang menikmatinya, maka ia akan menyadarinya ketika karunia itu sudah hilang" Siapa yang tidak bersyukur  ketika Allah beri nikmat maka ia akan disadarkan ketika nikmat itu tiada..Sehat ini akan nikmat ketika sudah sakit, Nikmat silaturahmi itu indah dan butuh kita syukuri ketika PPKM. Bisa nafas itu nikmat dan ini akan lebih berharga kita rasakan ketika sesak nafas saat kita misalnya kena covid beberapa waktu lalu Gratitude Prayer Doa syukur dari Nabi sulaiman yang penuh makna dan hikmah ..., رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَا لِدَيَّ وَاَ نْ اَعْمَلَ صَا لِحًـا تَرْضٰٮهُ وَاَ دْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَا دِكَ الصّٰلِحِيْنَ "..., "Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh." (QS. An-Naml 27: Ayat 19) Ya Allah jadikan kami hambaMu yang selalu peka atas semua nikmat dan anugerahMu Gratitude Journal Jurnal syukur  1. Menulis 50 hal yang sangat saya nikmati (syukuri) dalam hidup ini Dengan menuliskan nikmat yang Allah berikan maka akan membuka mata hati kita bahwa betapa banyak yang kita syukuri dalam hidup dibanding yang kita keluhkan 2. Bisa dengan cara bertanya kepada orang lain, karena seringkali kita tidak menyadarinya Karena kita punya blind spot (titik buta) / hal2 yang bisa jadi sudah sering kita rasakan namun jarang disyukuri yang bisa jadi itu adalah keinginan banyak orang. Maka ketika sudah mulai banyak keluh kesah dari dalam diri.. coba ajak orang lain ngobrol dan tanyakan "Kira2 menurutmu apa yang harus saya syukuri dalam hidup saya" Nanti kau akan terperangah dengan betapa banyak nikmat yang kau lupakan padahal  itu bisa jadi adalah doa dari banyak orang.. yang sudah dititipkan didirimu namun belum dimereka

Read more